Jembatan Cijaha Penghubung Desa di Jampangtengah Putus Total, Warga Andalkan Jembatan Kayu Swadaya

Ulilinfonkri.com – SUKABUMI – Jembatan Cijaha yang menghubungkan *Kampung Cijaha, Desa Bantarpanjang* dengan *Kampung Bojongwaru, Desa Bojongjengkol, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi*, hingga kini belum diperbaiki.

Jembatan dengan panjang 4 meter dan lebar 2,5 meter yang melintang di atas *Kali Cijaha* tersebut dibangun sejak era *1983-1984*. Jembatan vital itu ambruk dan putus total akibat terjangan banjir dan tanah longsor pada *Minggu, 19 April 2026.* Akibatnya, kendaraan roda empat sama sekali tidak dapat melintas.

Warga setempat, Riki (25), menuturkan kronoloigi awal jembatan terputus terjadi sekitar pukul 02.00 WIB dini hari saat curah hujan tinggi. Untuk tetap beraktivitas, warga membangun jembatan darurat dari kayu.

“Kendaraan roda dua bisa melintas menggunakan jembatan terbuat dari kayu untuk penyeberangan anak sekolah yang dibangun warga sekitar. Kalau lewat jalan pintas, jauh 2 kilometer, itu juga jalannya sama-sama rusak (bebatuan),” ujar Riki, Selasa (20/10/2026).*

Keluhan serupa disampaikan Aris (23), pengajar di SMK Master Teknologi Jampangtengah. Ia mengaku terpaksa melintasi jembatan kayu demi menyingkat waktu.

“Tetap melewati jalur ini kalau terburu-buru karena jaraknya lebih dekat, selisih putar sekitar 2 kilometer jika lewat jalur lain. Jalur alternatif yang melewati jembatan putus kondisinya agak kurang bagus, tetapi tetap dipilih saat terburu-buru dibandingkan jalur lain yang lebih memutar meskipun jalannya lebih bagus,” ungkapnya.

*Dibatasi Untuk Motor*

Kepala Desa Bojongjengkol, Nirwana, membenarkan jembatan tersebut merupakan jalan desa perbatasan yang menjadi akses potong jalur bagi warga Desa Bantarpanjang.

Ia menjelaskan, setelah putus pada April lalu, mobilitas sempat dialihkan melalui jalur Kampung Cisampih RT 05/02, Desa Bojongjengkol, dengan jarak tempuh sekitar 1 kilometer lebih jauh.

Warga dan pemuda kemudian bergotong royong secara swadaya membuat jembatan kayu sementara. Awalnya konstruksi tersebut mampu dilalui roda empat hingga truk pengangkut pasir.

“Namun, ada truk yang memaksakan melintas di sana, padahal sudah ada jalur alternatif beraspal melalui rute Cisampih menuju Ciakar. Akibatnya, mobil tersebut terperosok (ngagegebros),” jelas Nirwana.

Setelah kejadian itu, jembatan kayu kembali diperbaiki bersama, namun kini akses dibatasi khusus untuk kendaraan roda dua guna menunjang mobilitas warga dan anak sekolah.

Terkait perbaikan permanen, Nirwana mengaku terkendala anggaran.

“Pemdes saat ini tidak ada anggaran, anggarannya terbatas. Apalagi itu kebanyakan yang menggunakannya warga Desa Bantarpanjang, sehingga harus dilakukan koordinasi lebih lanjut dengan Pemdes Bantarpanjang,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *